Minimnya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas masih menjadi tantangan bagi industri perbankan syariah. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) sekaligus Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Muliaman D. Hadad mengatakan aset perbankan syariah yang terus tumbuh besar jika didukung SDM yang kurang maka akan berisiko. Karenanya, diperlukan SDM berbasis kompetensi yang benar-benar memahami ekonomi syariah.
"Kami masih fokus bagaimana mencari SDM yang berkualitas untuk perbankan syariah. Banyak SDM, tetapi secara kualitas harus comportable dengan pasar," ujarnya dalam Seminar Bulanan MES di Jakarta, Rabu (21/10/2009).
Minimnya SDM ini, lanjut Muliaman, berakibat pada marakya 'pembajakan' SDM antara industri perbankan syariah. "Salah satu keluhan saat ini di industri syariah yakni SDM banyak bajak-bajakan," katanya.
Guna memenuhi kebutuhan SDM sesuai dengan keinginan industri, menurut Muliaman, diperlukan link and match antara tuntutan pasar dengan kurikulum yang disediakan di perguruan tinggi.
"Saat ini ada lebih dari 100 universitas yang menawarkan ekonomi syariah. Namun untuk menciptakan SDM berkualitas harus dilakukan bersama-sama dan bersinergi baik dari pelaku, perguruan tinggi dan masyarakat," tandasnya.
Muliaman mengungkapkan persoalan ini tidak bisa dijawab hanya wacana dan diskusi.
"Harus ada langkah konkret yang perlu dilakukan untuk bisa melangkah. Misalnya, dengan membuat lembaga yang mengorganisir, membentuk talent pool beberapa fresh graduate, lalu diidentifikasi dilanjutkan dengan pelatihan. Ini kesempatan luar biasa untuk penuhi kebutuhan-kebutuhan industri," papar Muliaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar